Sabtu, 19 Januari 2013

Asidifikasi Laut


Sejak terbentuknya laut hingga beberapa puluh dekade belakangan ini, laut memiliki stabilitas pH yang cukup sehingga mampu menyokong berbagai macam kehidupan di dalamnya. Keadaan berubah pesat ketika peradaban manusia memasuki era revolusi industri, dimana pembangunan di bidang industri telah berkembang secara cepat. Dampak revolusi industri meningkatkan kesejahteraan umat manusia secara drastis, namun di lain pihak penggunaan bahan bakar fosil merupakan awal mula campur tangan manusia terhadap kerusakan ekosistem. Era revolusi industri banyak menimbulkan hasil sampingan berupa limbah zat kimia berbahaya serta polusi gas yang hingga kini masih menjadi sorotan masalah pemanasan global yaitu emisi karbon dioksida (CO2).

Peneliti menemukan bahwa laut telah menjadi salah satu penyerap CO2 terbesar setelah hutan sehingga memperlambat dampak polusi gas CO2 terhadap atsmosfer bumi. Asidifikasi atau menurunnya pH pada suatu larutan hingga keadaan asam merupakan fenomena yang terjadi akibat adanya reaksi antara air laut dengan gas CO2. Reaksi antara air laut dengan gas CO2 tersebut akan membentuk asam karbonik yang akan menurunkan pH air laut terutama pada daerah didekat permukaan.
Gambar 1. Reaksi air dengan CO2 membentuk asam karbonik
Turunnya pH air laut menimbulkan dampak yang cukup besar terhadap makhluk hidup di dalam ekosistem laut. Dampak terbesar dialami oleh hewan karang yang sensitif terhadap suhu dan pH lingkungan. Karang akan berlendir sebagai respon terhadap lingkungan yang tidak sesuai terhadap kelangsungan hidup karang dan dampak terburuknya adalah matinya hewan karang sehingga terumbu karang memutih atau dikenal dengan bleaching.
               
Rusaknya terumbu karang akan memengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman hewan lain yang berasosiasi dengan karang seperti ikan karang, molusca, dan invertebrata lainnya. Asidifikasi air laut juga memengaruhi ikan secara hormonal sehingga menyebabkan anomali reproduksi. Dampak secara langsung juga dialami kerang-kerangan yang tidak tahan terhadap pH rendah sehingga cenderung menghindari kedalaman yang dangkal. Semua hal tersebut akan merubah pola rantai makanan terutama organisme dengan posisi terbawah dalam rantai makanan.
               
Kurang lebih 22 juta ton gas CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas manusia diserap oleh lautan setiap harinya. Kesadaran akan kerusakan yang terjadi di laut akibat ulah manusia ini perlu dibangun. Manusia harus mulai mampu untuk mengontrol emisi gas buang CO2 karena jika tidak, organisme laut akan berada di dalam tekanan untuk beradaptasi terhadap perubahan kimia air laut atau musnah karenanya.

oleh:
-Diklat SIGMA-B UI-

Sumber : http://ocean.nationalgeographic.com/ocean/critical-issues-ocean-acidification/?source=A-to-Z

Tidak ada komentar:

Posting Komentar